Harga batu bara termal di Asia melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir akibat pembangkit listrik menimbun bahan bakar untuk musim dingin. Kondisi ini memperketat pasar yang sudah tertekan oleh tingginya permintaan dan gangguan pasokan dari China hingga Indonesia.
Status batu bara sebagai bahan bakar fosil paling kotor menjadikannya target utama pengurangan produksi dan penggunaan, tetapi upaya tersebut terhambat oleh meningkatnya permintaan terkait ketahanan energi. IEA awalnya memperkirakan konsumsi global turun tahun ini, namun mengubah proyeksinya menjadi kenaikan 1,2% ke level rekor.
Perang Iran menyebabkan harga minyak dan gas meroket sehingga meningkatkan ketergantungan sektor listrik pada batu bara. Krisis energi di Timur Tengah tahun ini membuat prospek jangka panjang permintaan batu bara termal lebih tangguh menurut analis Morgan Stanley.
Morgan Stanley menaikkan proyeksi jangka panjang untuk harga ekspor Newcastle—patokan di Asia—sebesar 4% menjadi US$125 per ton.