Fenomena AI fatigue atau kelelahan terhadap kecerdasan buatan semakin dialami banyak orang seiring masifnya penggunaan AI dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga media sosial. Istilah ini menggambarkan kejenuhan bukan karena AI tidak berguna, melainkan karena kehadirannya yang sulit dihindari dan tuntutan adopsi yang semakin tinggi.
Penulis yang juga akademisi AI dan komunikasi digital ini mengungkapkan keinginan untuk mempertahankan ruang-ruang tertentu dari intervensi teknologi, seperti membaca tulisan yang sepenuhnya karya manusia, menikmati foto tanpa curiga AI-generated, atau melihat media sosial tanpa dibanjiri konten tips AI. Kegelisahan ini bukan bentuk anti-teknologi, melainkan respons terhadap semakin sempitnya ruang untuk memilih kapan teknologi perlu digunakan.
Diskusi tentang AI perlu melampaui efisiensi dan produktivitas, dengan mempertimbangkan konsekuensi lebih mendasar ketika proses berpikir, mencipta, dan berkomunikasi dialihkan ke mesin. Merujuk pada pemikiran Sherry Turkle dan Tristan Harris, artikel ini menyoroti pentingnya menjaga kemampuan manusia untuk menentukan batas penggunaan teknologi dan menghargai proses yang lebih lambat namun bermakna.
AI fatigue dapat dipahami sebagai sinyal reflektif bahwa efisiensi bukan satu-satunya ukuran nilai sebuah aktivitas. Literasi AI harus mencakup kemampuan mengenali kapan intervensi AI tidak diperlukan, dan memilih untuk tidak menggunakannya bisa menjadi bentuk penting mempertahankan kemanusiaan di tengah dunia yang semakin dipenuhi kecerdasan buatan.