Forest City di Johor, megaproyek senilai US$100 miliar yang berupaya melepas label "kota hantu", menghadapi hambatan baru berupa aktivitas ilegal dan penipuan. Dalam kunjungan CNA, ditemukan praktik perjudian daring di ruko tanpa papan nama, sementara pada Juli polisi menangkap 335 orang terkait dugaan operasi penipuan lintas batas, mayoritas warga China. Kasus Network School yang ditutup karena pelanggaran izin juga menambah dampak reputasi.
Kriminolog menilai operasi penipuan dan kasus tersebut memengaruhi nilai properti, kepercayaan bisnis, serta minat tinggal. Warga dan agen properti melaporkan kekhawatiran keamanan, bahkan masih menemukan indikasi penipuan pada penyewa setelah penggerebekan. Data menunjukkan median harga transaksi Forest City turun 12 persen (RM547 per kaki persegi) dengan hanya 13 penjualan tercatat antara Juni 2025 dan Juni 2026.
Meski demikian, sebagian pemilik properti tetap optimistis, mengandalkan status Zona Keuangan Khusus (SFZ) dan Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) untuk memperbaiki prospek. Pengembang Country Garden mendukung penindakan polisi dan mengusulkan kehadiran polisi permanen, sementara pakar menekankan perlunya kontrol akses ketat, pengawasan, dan pemanfaatan legal ruang kosong.
Untuk menghidupkan kembali Forest City, diperlukan bisnis sah, lapangan kerja, serta penghuni jangka panjang. Pemeriksaan perizinan yang lebih ketat dinilai dapat memberi sinyal positif bagi investor institusional, meski dalam jangka pendek membuat pembeli dan penyewa lebih berhati-hati.