Warga Matarape, Morowali, Sulawesi Tengah, menggelar aksi pada Jumat (2/10/2026) untuk menyampaikan keresahan terkait debu hauling yang masuk ke permukiman dan dampak aktivitas perusahaan terhadap lahan mereka. Aksi tersebut berubah memanas setelah warga mengaku terjadi benturan dengan orang-orang yang mereka sebut sebagai tenaga kerja asing di lingkungan PT ASKON, disertai laporan penggunaan alat berat, dua kendaraan rusak, dan dua warga luka.
Seorang sumber mengklaim adanya kemiripan pola antara persoalan di Matarape dengan peristiwa yang pernah terjadi di Sagea, Halmahera. Sumber itu menyebut nama Mr Yusuf di tingkat site, Mr Yang di Jakarta, dan Kukun yang diduga menangani persoalan masyarakat. Namun, identitas, jabatan, dan keterlibatan nama-nama tersebut belum dapat dipastikan secara independen dan masih membutuhkan konfirmasi.
Sumber juga mengklaim pernah terjadi penggunaan alat berat terhadap kendaraan dalam konflik di Sagea, bahkan menyebut dugaan arahan dari seseorang bernama Mr Yusuf Mansur dengan iming-iming tiga kali gaji bagi yang berani menghancurkan mobil. Klaim ini belum terverifikasi karena belum ada dokumen, rekaman perintah, atau keterangan independen yang memastikan kebenarannya.
Warga Matarape menuntut tanggung jawab perusahaan atas dampak aktivitasnya dan memastikan keselamatan masyarakat sekitar. Di sisi lain, PT ASKON perlu memberikan klarifikasi mengenai kronologi kejadian, posisi orang-orang di lokasi, penggunaan alat berat, dan pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan kendaraan. Kemunculan cerita dari Halmahera memunculkan pertanyaan apakah insiden Matarape berdiri sendiri atau ada pola penanganan konflik yang menghubungkan kedua wilayah.