Ekonom: Kelangkaan Beras Premium di Ritel Modern Bukan Indikasi Gagal Swasembada

Minggu, 11 Oktober 2026 pukul 02.17
Ekonom: Kelangkaan Beras Premium di Ritel Modern Bukan Indikasi Gagal Swasembada

Sumber Berita Asli

Republika Online RSS Feed

Baca di Website Asli ↗
Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai kelangkaan beras premium di ritel modern bukan indikasi gagal swasembada, melainkan dampak penyesuaian pasar setelah pemerintah menindak produsen yang diduga melakukan kecurangan. Menurutnya, penindakan tersebut sudah tepat untuk melindungi konsumen dan menjaga kualitas pangan nasional, sementara keterbatasan pasokan hanya bersifat sementara akibat guncangan operasional produsen. Sekretaris Utama Bapanas Ito Hediarto memastikan stok beras nasional aman, dengan ketersediaan di Pasar Induk Beras Cipinang mencapai 40-50 ribu ton dan arus keluar-masuk 1,8-2,5 ribu ton per hari. Harga beras premium di tingkat grosir juga dinilai wajar, berkisar Rp12.860 hingga Rp14.200 per kilogram, meskipun Indonesia menghadapi musim kemarau dan El Nino. Bapanas terus memperketat pengawasan distribusi beras ke ritel modern bersama Bulog dan Satuan Tugas Pangan. Hingga awal Oktober, Bulog merealisasikan pengadaan 75,3 ribu ton beras komersial, sementara BPS mencatat produksi beras Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik 0,07 persen, dengan luas panen diperkirakan 10,56 juta hektare. Sebelumnya, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan pelanggaran pada 25 merek beras fortifikasi yang tidak sesuai standar label, merugikan konsumen hingga Rp89 triliun. Pemerintah memerintahkan penarikan produk, pencabutan izin, dan proses hukum bagi pihak terkait.

Berita Terkait Lainnya