Pembangunan Data Center AI Campus 2 (CGK4) di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, menuai pro dan kontra. Proyek senilai Rp3,5 triliun dengan kapasitas 640 MW ini dikembangkan oleh BDx Data Centers asal Singapura dan didukung pasokan listrik 845 MVA dari PLN. Kehadirannya diharapkan menjadikan Indonesia sebagai hub teknologi AI di Asia Tenggara.
Kekhawatiran utama masyarakat adalah konsumsi air dari Waduk Jatiluhur yang hanya berjarak 5 km. Waduk tersebut memasok 80-82% kebutuhan air baku DKI Jakarta, dan konsumsi air data center AI global diproyeksikan setara kebutuhan dasar 1,3 miliar orang pada 2030. Pengembang mengklaim menggunakan teknologi pendingin cair direct-to-chip dengan sistem lingkaran tertutup yang hemat air.
Selain air, kebutuhan listrik yang sangat tinggi menjadi sorotan. Pasokan 845 MVA setara dengan kebutuhan 650.000 rumah tangga dan empat kali lipat kapasitas PLTA Jatiluhur (187 MW). Hal ini berpotensi menaikkan tarif listrik masyarakat, seperti yang terjadi di Amerika Serikat.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia memiliki potensi energi beragam dan harga listrik kompetitif untuk mendukung data center. Meski pasokan energi saat ini terjaga, lonjakan pembangunan data center di Asia Tenggara berpotensi menekan pasokan listrik ke depan.