Artikel opini ini mengkritik perilaku pejabat yang mempermalukan bawahan di depan publik demi membangun citra. Menurut Dr. Ir. Hendri, tindakan semacam itu bukanlah ketegasan, melainkan penyalahgunaan relasi kuasa yang merusak martabat, kesehatan organisasi, dan kualitas pelayanan. Kepemimpinan yang kompeten seharusnya mengedepankan prosedur, fakta, dan dialog, bukan panggung penghinaan.
Penulis menyoroti bagaimana kamera dan media sosial mengubah inspeksi menjadi pertunjukan. Pejabat yang gemar mempermalukan bawahan akan dikelilingi penjilat, kehilangan keamanan psikologis, dan membuat organisasi kehilangan alat pendeteksi masalah. Nilai BerAKHLAK dalam ASN dinilai hanya menjadi slogan jika perilaku atasan bertentangan dengan prinsip harmonis, kolaboratif, dan akuntabel.
Artikel menegaskan bahwa bawahan bukan properti jabatan, dan kritik terhadap cara mempermalukan tidak berarti membela pelanggaran. Jika ada kesalahan, proses pemeriksaan harus tetap objektif, proporsional, dan berbasis bukti. Pemimpin hebat melindungi proses, bukan mengorbankan bawahan untuk menyelamatkan citra.
Penulis mengusulkan delapan langkah perbaikan, mulai dari evaluasi rutin, teguran tertutup, hingga pengaduan yang aman. Kesimpulannya, wibawa tidak lahir dari bentakan, dan ukuran kepemimpinan adalah seberapa baik organisasi bekerja tanpa kehadiran pejabat.