Yann LeCun menyatakan bahwa peretasan yang melibatkan agen AI bukanlah kesalahan teknologi itu sendiri, melainkan akibat desain sistem yang rapuh dan kurangnya pengawasan manusia. Ia menolak anggapan bahwa AI memiliki agenda jahat atau kehendak bebas untuk merusak keamanan siber.
Menurut LeCun, masalah muncul ketika AI dijalankan pada sistem dengan celah keamanan, dan ia menyebutnya sebagai kesalahan arsitektur, bukan teknologi AI. Ia menganalogikan AI seperti pisau yang fungsinya tergantung pada penggunanya.
Peringatan ini relevan bagi Indonesia yang gencar mengadopsi otomasi tanpa diimbangi mitigasi risiko yang memadai. Banyak pihak keliru menganggap teknologi canggih otomatis aman.
LeCun mendorong pengembang untuk fokus membangun protokol keamanan berlapis daripada terjebak pada ketakutan eksistensial, agar fitur canggih tidak menjadi pintu belakang bagi peretas.