Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat adanya lonjakan konsumsi BBM bersubsidi Pertalite yang dipicu oleh kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebutkan hal ini menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang mengikuti pergerakan harga.
Pergeseran konsumsi ini terjadi karena disparitas harga antara Pertalite dan Pertamax semakin lebar. Sebaliknya, ketika harga Pertamax turun pada awal Agustus 2026, konsumsi Pertalite juga sedikit menurun, meski tetap berada di atas rata-rata harian normal.
Data BPH Migas menunjukkan rata-rata konsumsi harian Pertalite pada Juli 2026 mencapai 85.589 kilo liter (kl), naik 12,92% dibanding hari normal. Pada Agustus 2026, angka itu turun menjadi 84.368 kl, namun masih 11,31% lebih tinggi dibanding konsumsi normal sebelum kenaikan harga Pertamax pada Juni 2026.
Meski harga Pertamax telah mengalami penurunan, disparitas harga dengan BBM subsidi masih cukup tinggi sehingga masyarakat tetap banyak beralih menggunakan BBM subsidi. Saat ini, harga Pertalite dilepas Rp10.000 per liter sementara Pertamax diujukan Rp15.950 per liter.