Calon Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi merupakan kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Hal ini disampaikan dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI.
Aida menjelaskan bahwa stabilitas tersebut dicapai melalui pengendalian inflasi, penjagaan nilai tukar, likuiditas, dan sektor eksternal. Menghadapi tren ekonomi global "higher for longer", BI merespons dengan penyesuaian BI-Rate untuk menjaga imbal hasil rupiah dan menarik capital inflows, meski kenaikan suku bunga berisiko terhadap perekonomian domestik.
Untuk mengurangi trade-off antar kebijakan, BI mengombinasikan kebijakan moneter dengan operasi pasar terbuka serta insentif biaya hedging. Langkah ini bertujuan menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terjadi overshooting, yang mana saat ini rupiah bergerak cukup stabil di kisaran Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS.
Ke depan, Aida menyoroti tantangan berat pada 2026 akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Meski demikian, defisit transaksi berjalan sebesar 3,3 persen dari PDB dipercaya masih dapat terjaga berkat adanya financial account yang cukup tinggi.