Kementerian Perindustrian mencatat ekosistem batik Indonesia mencakup 5.946 industri, tersebar di 200 sentra di 11 provinsi, dan menyerap 47 ribu tenaga kerja. Nilai ekspor batik meningkat signifikan, mencapai USD20,14 juta pada 2025, naik 32,5 persen dari tahun sebelumnya, meskipun Semester I 2026 menunjukkan penurunan sementara dibanding periode yang sama tahun lalu. Pengembangan batik didorong untuk memadukan tradisi dengan inovasi dan teknologi digital, termasuk pemanfaatan teknologi untuk desain, pemasaran, dan produk ready-to-wear serta aksesori. Upaya keberlanjutan dilakukan melalui pelatihan bagi generasi muda dan kolaborasi dengan brand lokal seperti Ulur Wiji, yang menggabungkan teknik kriya tradisional dengan desain kontemporer untuk memperluas pasar.