Rupiah diperkirakan mulai terkonsolidasi di pasar spot pada 1 Oktober 2026, dengan penguatan terbatas 0,06% ke level Rp17.924/US$ pada pagi hari. Sinyal defensif terlihat di pasar NDF, sementara indeks dolar AS masih bertahan di 101,45 dan menahan laju penguatan rupiah.
Penguatan rupiah ditopang oleh harga minyak mentah Brent yang kembali melandai ke US$98 per barel setelah turun 0,92%. Namun, pasar masih mencermati perkembangan eksternal, terutama data inflasi AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Data PCE AS tercatat lebih rendah dari perkiraan, dengan PCE tahunan 3% (survei 3,3%) dan PCE bulanan 0,2% (survei 0,3%). Hal ini membuat pelaku pasar memangkas sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.
Peluang kenaikan Fed Fund Rate kini diperkirakan turun menjadi 36%, dari sebelumnya 50% sebelum data PCE dirilis. Pasar masih akan mencermati dinamika harga minyak, pasokan Timur Tengah, serta data perdagangan dan inflasi domestik.