Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 07.48

Sebab, Indonesia yang kuat bukan hanya dibangun dari pusat-pusat kekuasaan, melainkan juga dari kampung-kampung yang warganya masih bersedia berdiri untuk satu sama lainSurabaya (ANTARA) - Ada hal-hal besar yang justru tumbuh dari kebiasaan yang tampak kecil. Menyapa tetangga, berbagi makanan, menjaga keamanan lingkungan, membantu keluarga yang kesulitan, atau bergotong royong membersihkan saluran air mungkin tidak pernah masuk berita utama. Namun, dari kebiasaan seperti itulah rasa memiliki terhadap sesama dibentuk.Di Kota Surabaya, Jawa Timur, kebiasaan tersebut hendak diperkuat melalui Program Kampung Pancasila. Pemerintah Kota Surabaya akan menggelar lomba Kampung Pancasila mulai September hingga Desember 2026 dengan melibatkan seluruh RW di 153 kelurahan. Penilaian mencakup empat pilar, yakni lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya.Gagasan ini menarik karena Pancasila tidak ditempatkan semata sebagai materi yang dihafalkan atau simbol yang dipasang di ruang publik. Nilainya dibawa ke tempat yang paling dekat dengan kehidupan warga.Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Lomba tidak boleh hanya melahirkan kampung yang tampak paling tertata ketika dinilai, tetapi belum tentu paling kuat merawat solidaritas setelah kompetisi berakhir.Sebab, Pancasila bukan soal siapa yang paling banyak memperoleh penghargaan. Pancasila diuji dari cara warga memperlakukan tetangga, menyelesaikan persoalan bersama, melindungi kelompok rentan, menjaga lingkungan, dan memastikan tidak ada warga yang merasa ditinggalkan.Bukan seremoniProgram Kampung Pancasila Surabaya sejak awal dirancang lebih luas daripada kegiatan simbolik. Pada Agustus 2025, Pemkot Surabaya memulai program tersebut di 1.360 titik yang tersebar di 153 kelurahan. Program itu diarahkan untuk mendata dan menangani persoalan warga, termasuk kemiskinan, kehamilan berisiko, anak putus sekolah, hingga pengangguran terbuka.Penguatan berlanjut pada 2026 dengan pelibatan sekitar 12 ribu ASN untuk mendampingi 1.361 RW. Langkah itu menunjukkan bahwa pemerintah ingin membawa penyelesaian persoalan lebih dekat ke lingkungan tempat warga tinggal.Skala tersebut membuat Kampung Pancasila layak dipandang sebagai laboratorium kebijakan di tingkat paling bawah. Persoalan kota yang besar diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih konkret, mulai dari sampah, keamanan, ekonomi keluarga, kesehatan, sampai pendidikan.Karena itu, lomba sebaiknya menjadi alat untuk mempercepat perbaikan, bukan tujuan akhir. Kompetisi memang dapat membangkitkan semangat warga, tetapi juga menyimpan risiko. Wilayah bisa tergoda mengejar hal-hal yang mudah terlihat saat penilaian, sementara masalah yang lebih dalam justru tidak tersentuh.Kampung yang paling rapi belum tentu paling Pancasilais. Ukurannya bukan semata-mata gapura yang dihias atau kegiatan yang ramai. Kemampuan menyelesaikan masalah bersama justru lebih penting.Ketika warga mampu menghimpun bantuan bagi tetangga sakit, mencegah anak berhenti sekolah, atau menyelesaikan persoalan lingkungan tanpa selalu menunggu pemerintah, di sanalah Pancasila menemukan bentuk konkretnya. Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.