Para ahli strategi Partai Republik AS khawatir partai mereka akan mengalami kekalahan besar dalam pemilihan umum sela bulan November. Kekhawatiran ini dipicu oleh kegagalan Presiden Donald Trump dalam memenuhi janji kampanyenya, terutama dalam meredam inflasi dan menjauhkan negara dari konflik luar negeri.
Berdasarkan laporan Bloomberg, partai tersebut berisiko kehilangan kendali atas kedua majelis Kongres. Jajak pendapat menunjukkan meningkatnya frustrasi pemilih akibat harga bahan bakar yang tinggi, inflasi yang sulit dikendalikan, serta perang yang tidak populer terhadap Iran.
Amy Walter dari Cook Political Report membandingkan situasi ini dengan pemilu sela 2006, di mana perang Irak menyebabkan kekalahan signifikan bagi Partai Republik. Kebijakan Trump dianggap bertolak belakang dengan citranya sebagai sosok yang mampu menurunkan harga dan mengakhiri perang tanpa akhir di Timur Tengah.
Survei Ipsos-Reuters terbaru menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Trump telah merosot ke titik terendah sepanjang masa kepresidenannya. Sebanyak 63 persen warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani agresi terhadap Iran, menjelang pemilu sela yang akan diselenggarakan pada 3 November 2026.