Islandia secara resmi menolak melanjutkan negosiasi keanggotaan Uni Eropa (UE) melalui referendum dengan hasil 52,8% suara menolak. Keputusan ini menutup pintu keanggotaan penuh, meskipun proses aksesi tersebut sempat berjalan pada tahun 2015.
Rakyat Islandia memilih mempertahankan kemitraan erat dengan UE tanpa status anggota penuh. Walau ada dinamika geopolitik global seperti perang Ukraina dan kebijakan Donald Trump, penentu utama hasil referendum ini adalah sektor perikanan.
Perikanan merupakan tulang punggung ekonomi Islandia, menyumbang 8% PDB dan hampir 40% total ekspor negara. Negara ini sangat protektif terhadap wilayah perikanannya, seperti yang terbukti dalam sejarah Perang Ikan Kod melawan Inggris pada 1958-1976.
Bergabung dengan UE berarti Islandia harus tunduk pada Kebijakan Perikanan Bersama yang mengatur kuota tangkapan. Survei menjelang pemungutan suara menunjukkan 90% perusahaan perikanan Islandia menolak keanggotaan demi melindungi kendali penuh atas sumber daya laut mereka.