Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi bencana ekologis yang berulang setiap musim kemarau di Indonesia. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menekankan bahwa karhutla adalah persoalan kompleks yang melibatkan interaksi iklim, aktivitas manusia, kondisi ekosistem, dan kemampuan pengelolaan risiko.
Menurut Daryono, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan pemadaman api, tetapi harus dimulai dari pengendalian faktor risiko sebelum kebakaran terjadi. Ia mengidentifikasi tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam kejadian karhutla.
Faktor pertama adalah iklim dan cuaca, terutama saat musim kemarau, termasuk fenomena El Nino atau kekeringan berkepanjangan. Kondisi ini meningkatkan kemudahan bahan organik terbakar, diperparah oleh temperatur tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api.
Selain faktor iklim, aktivitas manusia dan kondisi ekosistem turut menjadi pemicu yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Diperlukan upaya pengelolaan risiko yang menyeluruh untuk mencegah terulangnya karhutla setiap tahun.