Suara ledakan dilaporkan terdengar di dekat Pulau Larak, Iran, pada Ahad (30/8/2026), yang diduga kuat merupakan akibat dari serangan drone Amerika Serikat (AS).
Media AS mengonfirmasi serangan tersebut, menyatakan pasukan mereka menghancurkan dua peluncur misil Iran di pulau itu. Hal itu dilakukan setelah memantau pergerakan pasukan Iran yang bersiap meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke arah Selat Hormuz.
Eskalasi konflik ini menambah tekanan bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di dalam negeri. Peneliti Universitas Teheran, Mohammad Eslami, menilai tekanan tersebut akan semakin menguat menyusul serangan AS di sejumlah posisi IRGC.
Eslami memprediksi IRGC akan melancarkan balasan dengan menutup Selat Hormuz atau menyerang pangkalan AS. Ia menilai pasukan AS yang bermarkas di Yordania berpotensi menjadi sasaran empuk balas dendam Iran.