Bencana banjir bandang dahsyat melanda perbatasan Nepal dan Tiongkok, memicu krisis kemanusiaan skala besar. Gabungan data mencatat sedikitnya 797 orang tewas dan lebih dari 3.000 orang lainnya dinyatakan hilang hingga hari kelima operasi pencarian.
Wilayah Nepal menjadi yang terdampak paling parah dengan 781 korban tewas dan 1.910 orang hilang, termasuk ratusan warga negara asing dan pekerja proyek PLTA. Distrik Rasuwa mencatat angka korban hilang tertinggi, sementara India juga menemukan tujuh jenazah diduga korban banjir dari sungai yang mengalir dari Nepal.
Sektor pendidikan turut luluh lantak dengan sedikitnya 19 sekolah terdampak di tiga distrik terparah. Lebih dari 200 siswa dilaporkan hilang dan sekitar 20 siswa lainnya terseret arus, sementara sebagian besar sekolah di Distrik Rasuwa dan Nuwakot terendam air atau tertimbun lumpur.
Upaya penyelamatannya menghadapi tantangan besar akibat medan yang sulit dijangkau, musim hujan, serta banyaknya jembatan dan jalan yang hancur. Lembaga nirlaba All Hands & Hearts menekankan pentingnya kolaborasi bantuan, dengan tim yang menuai pengalaman dari gempa bumi Nepal 2015 untuk merespons krisis ini secara lebih efektif.