Puluhan petani dari berbagai gabungan kelompok tani (gapoktan) di Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik yang digelar oleh Stasiun Klimatologi Jateng BMKG bekerja sama dengan Komisi V DPR dan Dispertanikap Kabupaten Semarang. Kegiatan ini bertujuan membekali petani dengan literasi iklim agar mampu membaca cuaca, memperhitungkan musim tanam, dan meminimalkan risiko gagal panen akibat anomali iklim.
Kepala Stasiun Klimatologi Jateng Goeroeh Tjiptanto menyatakan bahwa SLI merupakan program edukasi iklim untuk menjembatani kebutuhan petani dengan pendampingan teknis dari Dinas Pertanian. Terdapat dua jenis SLI, yaitu SLI Tematik yang fokus pada pemahaman dasar literasi iklim dan penggunaan aplikasi digital, serta SLI Operasional yang melakukan pemantauan dan pendampingan intensif mulai dari perencanaan tanam hingga masa panen. BMKG Jateng menargetkan penyelenggaraan SLI sebanyak enam kali sepanjang tahun 2026.
Plt Dispertanikap Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno menekankan bahwa perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi harus mendorong sektor pertanian untuk beradaptasi. Kebiasaan tradisional petani yang mengandalkan Pranata Mangsa dinilai sudah kurang akurat, sehingga petani didorong beralih memanfaatkan informasi dan literasi iklim dari BMKG, terutama bagi kawasan pertanian non-irigasi yang bergantung pada air hujan.
Melalui kolaborasi ini, petani diharapkan mampu menentukan kalender musiman yang lebih tepat, mulai dari penentuan awal masa tanam hingga pemilihan varietas tanaman yang sesuai, guna menekan risiko kegagalan panen.