Keluhan masyarakat Indonesia tentang kondisi ekonomi yang lesu semakin sering muncul di media sosial dengan istilah seperti "In this economy..." dan fenomena downgrade gaya hidup, meskipun data pertumbuhan ekonomi nasional masih di atas 5% selama beberapa kuartal terakhir. Hal ini menimbulkan paradoks yang disebut vibecession, yakni ketidaksesuaian antara persepsi publik yang merasa ekonomi sulit dengan indikator makroekonomi yang terlihat baik.
Analisis ekonom menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat 5,29%, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61%, dan sepanjang 2025 lajunya juga masih di atas 5% kecuali pada kuartal pertama tahun lalu. Namun, di balik angka tersebut, manfaat pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Terdapat kesenjangan yang semakin mencolok, di mana kelompok dengan pengeluaran terbesar paling menikmati pertumbuhan, sementara kelompok lain justru mengalami perlambatan bahkan penurunan. Laporan lengkap dengan analisis mendalam dapat dibaca di Bloomberg Businessweek Indonesia edisi Oktober 2026.