Anomali iklim El Niño tahun ini diperkirakan sebagai salah satu yang terkuat dan dampaknya sulit dimitigasi, dengan kerugian diperkirakan melampaui Rp120 triliun akibat kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, risiko gagal panen, serta biaya kesehatan. Dampak El Nino diprediksi berlangsung hingga Maret 2027, semakin membebani ekonomi domestik yang sudah menghadapi krisis harga energi dan ketidakstabilan global.
Isu ini menjadi Sorotan Utama Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Oktober 2026. Selain itu, laporan lain menyoroti ketidakmerataan pembagian 'kue' ekonomi Indonesia, di mana pertumbuhan di atas 5% hanya dinikmati segelintir masyarakat, terutama kelompok terkaya, sementara kelas menengah semakin terpuruk dan memicu vibecession.
Industri penggemukan sapi (feedlot) juga terpuruk karena harga bakalan dan pakan mahal sementara harga jual terbatas, menyebabkan banyak usaha gulung tikar atau mengurangi ekspansi. Ringkasan ini juga menyertakan tautan artikel terkait ambisi 3 juta rumah, compang-camping B50, dan tren Hyrox.