Impor bahan bakar minyak dan gas (migas) Kamboja melonjak hampir 54 persen selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Negara tersebut menghabiskan 1,47 miliar dolar AS untuk solar (naik 48 persen yoy), 1,04 miliar dolar AS untuk bensin (naik 76 persen), dan 314 juta dolar AS untuk gas pembakaran (naik 23 persen).
Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan internasional. Wakil Direktur Pusat Studi Tiongkok-ASEAN, Thong Mengdavid, menyebut peningkatan produksi industri, perluasan jaringan transportasi dan logistik, serta tingginya permintaan listrik sebagai pendorong utama. Namun, momentum ekonomi Kamboja terhambat oleh lonjakan harga bahan bakar global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Harga eceran bensin reguler per liter di Kamboja tercatat 5.150 riel (1,27 dolar AS), melonjak 33,7 persen dibandingkan sebelum konflik Timur Tengah. Sementara harga solar mencapai 5.650 riel per liter (1,39 dolar AS), naik 46,7 persen.
Kamboja saat ini sepenuhnya bergantung pada impor minyak bumi karena belum memanfaatkan cadangan migas lepas pantainya.