Dari Tambak ke Industri, Bima Pacu Hilirisasi Garam Demi Nilai Tambah Petani

Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 03.34
Dari Tambak ke Industri, Bima Pacu Hilirisasi Garam Demi Nilai Tambah Petani

Sumber Berita Asli

Republika Online RSS Feed

Baca di Website Asli ↗
Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mendorong hilirisasi garam dari tambak ke industri untuk meningkatkan nilai tambah bagi sekitar 3.000 keluarga petani. Meskipun produksi garam pada 2025 mencapai 119.311,24 ton, turun 8,35 persen dari 2024, potensi bahan baku tetap besar dengan lahan sekitar 1.564,59 hektare. Sebagian besar garam masih berkualitas KW2 dan KW3, sehingga nilai jual rendah dan pengolahan lebih banyak dilakukan di luar daerah. Pemerintah daerah dan KKP meresmikan fasilitas washing plant di Desa Donggobolo senilai Rp13 miliar berkapasitas gudang 2.000 ton untuk meningkatkan mutu garam melalui pencucian, pemurnian, dan iodisasi. Fasilitas ini diharapkan menjadi fondasi industri garam yang lebih kuat, dengan target pasar industri pertambangan, kimia, kosmetik, serta makanan dan minuman. Tantangan utama adalah memastikan petani memperoleh harga yang lebih baik dan pasar yang pasti. Harga menjadi faktor penentu bagi petani untuk tetap memproduksi garam atau beralih ke bandeng. Selain itu, akses jalan, gudang yang tahan banjir, dan standar mutu konsisten masih perlu dibenahi. Keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari berdirinya fasilitas, tetapi juga dari perluasan pasar, peningkatan harga bagi petani, dan terciptanya nilai ekonomi sebelum garam meninggalkan Bima. Langkah awal telah dimulai melalui washing plant dan kemitraan dengan koperasi serta BUMD.

Berita Terkait Lainnya