Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, memiliki sekitar 1.564,59 hektare lahan tambak garam yang menghidupi sekitar 3.000 keluarga petani atau 9.000 hingga 12.000 jiwa. Produksi garam pada 2025 mencapai 119.311,24 ton, turun sekitar 8,35 persen dari 130.186,32 ton pada 2024, namun tetap menunjukkan potensi besar sebagai bahan baku industri.
Meski volume produksi melimpah, sebagian besar garam Bima masih berkualitas KW2 dan KW3, sehingga ruang pasarnya terbatas. Pemerintah daerah mendorong peningkatan mutu garam menjadi garam industri untuk memperluas pasar ke sektor pertambangan, kosmetik, makanan dan minuman, serta meningkatkan nilai tambah di daerah.
Wakil Bupati Bima, H Irfan Zubaidy, menekankan pentingnya upgrade kualitas garam agar harga jual lebih baik. Selama ini garam Bima telah dipasarkan ke berbagai wilayah seperti Bali, Jawa, Makassar, NTT, Banjarmasin, Kabaena, Medan, dan Jakarta.
Hilirisasi garam Bima tidak hanya dimulai dari pabrik, tetapi dari tambak, yakni dari kualitas garam yang dihasilkan petani. Peningkatan mutu, kontinuitas pasokan, dan kesesuaian spesifikasi menjadi kunci untuk masuk ke rantai pengolahan industri yang lebih luas.