Industri logistik nasional menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan harga BBM, kelangkaan pasokan, dan harga suku cadang yang ikut melonjak, sehingga biaya operasional meningkat dan perusahaan dipaksa melakukan efisiensi. Director of Logistics & Distribution CKB Logistics, Ety Puspitasari Tjiptojo, menilai Pusat Logistik Berikat (PLB) menjadi instrumen kunci untuk meredam gangguan arus barang akibat gejolak Timur Tengah, karena mampu menampung stok dalam jumlah besar dan mengurangi penumpukan di pelabuhan.
CKB Logistics memperkuat kapasitas angkutan udara, darat, dan laut dari Sumatra hingga Papua, yang menuntut konsumsi BBM besar dan perawatan armada berkelanjutan. Tekanan biaya bertambah dengan harga minyak Brent sekitar USD102,25 per barel dan rupiah di level Rp17.900 per dolar AS, membuat biaya bahan bakar serta suku cadang impor naik berlapis. Bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar yang sulit dipangkas, sementara suku cadang berkaitan dengan perawatan truk, kapal, dan pesawat kargo.
Efisiensi yang dijalankan sering kali berarti menunda perawatan, mengubah rute, atau menaikkan tarif ke pelanggan. Kelangkaan BBM dinilai lebih mengganggu daripada sekadar harga tinggi, karena dapat memutus jadwal pengiriman dan membuat komitmen waktu tidak terpenuhi. Dampaknya meluas ke importir bahan baku, distributor barang konsumsi, pelaku e-commerce, hingga manufaktur yang bergantung pada komponen impor, dengan tekanan margin tambahan yang berpotensi diteruskan ke harga barang konsumsi.
Gangguan logistik regional, termasuk penutupan bandara akibat abu vulkanik, berpotensi memperparah arus kargo antarpulau, terutama di luar Jawa yang bergantung pada angkutan laut. Situasi ini terjadi saat pemerintah tengah menjaga daya beli dan mengelola defisit fiskal.