China mengancam akan membalas rencana Amerika Serikat (AS) yang berencana menerapkan tarif impor tambahan sebesar 7,5 persen untuk produk asal Negeri Tirai Bambu. Jurubicara Kementerian Perdagangan China, Huang Ling, menegaskan bahwa Beijing menentang keras tindakan proteksionisme sepihak tersebut.
Rencana tarif AS dipicu oleh tuduhan adanya kelebihan kapasitas manufaktur di China. Namun, China menolak tuduhan tersebut dan berargumen bahwa volume produksi yang melebihi konsumsi domestik tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai kelebihan kapasitas.
Investigasi Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) sebenarnya juga mencakup 15 negara mitra ekonomi lainnya, termasuk Indonesia, Uni Eropa, Jepang, dan India. Meski demikian, besaran tarif final yang akan diberlakukan AS masih belum diputuskan.
Saat ini, tarif pengganti AS terhadap barang China sudah berada di level 12,5 persen. Jika tambahan tarif 7,5 persen ini diberlakukan, total tarif AS terhadap produk China bisa mencapai sekitar 20 persen.