Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dinilai belum mengakhiri persoalan internal organisasi. Pengamat politik Adi Prayitno menilai potensi perpecahan merupakan tantangan terbesar yang harus segera diatasi oleh kepemimpinan baru Pengurus Besar NU (PBNU).
Dinamika dan demonstrasi yang muncul selama Muktamar dianggap sebagai sinyal masih adanya konflik internal. Oleh karena itu, Ketum PBNU yang baru terpilih wajib merangkul seluruh faksi, termasuk memberikan ruang bagi kelompok yang kalah dalam struktur kepengurusan untuk mencegah munculnya kubu baru.
Selain rekonsiliasi, kepemimpinan baru diimbau untuk menggeser fokus dari dinamika politik internal menuju agenda nyata yang langsung dirasakan oleh warga Nahdliyin, khususnya di sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Adi mendorong NU memperkuat Badan Usaha Milik NU (BUMNU) untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain itu, ia juga menyarankan NU membangun kampus yang menjadi rujukan dengan memanfaatkan banyaknya ilmuwan berkualitas di lingkungan internal organisasi.