Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang pada Agustus 2026, para kiai sepuh dari Pesantren Lirboyo menyampaikan pesan moral agar kontestasi berlangsung bermartabat, jujur, dan terbebas dari permusuhan. Pesan ini menegaskan pentingnya menjaga muruah dan ukhuwah persaudaraan dalam NU.
Muktamar bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, melainkan momentum strategis menentukan arah NU di abad keduanya. Kepemimpinan masa depan menuntut kapasitas intelektual, manajerial, teknokratis, dan rekonsiliatif, bukan hanya mengandalkan kesalehan personal semata.
Tantangan besar NU ke depan adalah menyikapi era digital, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan zaman yang pesat. Pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang melek teknologi tanpa kehilangan sanad keilmuan, di mana tradisi berperan sebagai kompas moral yang membimbing pemanfaatan teknologi itu sendiri.
Rekonsiliasi menjadi roh utama muktamar agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik. NU dituntut menjawab kegelisahan generasi muda terhadap berbagai persoalan masa kini dan mampu menjadi subjek peradaban yang kuat secara keilmuan, maju teknologinya, dan luhur akhlaknya.