WANTRII: Adopsi AI di Industri Manufaktur Perlu Diimbangi Keamanan Siber

Rabu, 14 Oktober 2026 pukul 03.41
WANTRII: Adopsi AI di Industri Manufaktur Perlu Diimbangi Keamanan Siber

Sumber Berita Asli

Republika Online RSS Feed

Baca di Website Asli ↗
Adopsi kecerdasan buatan (AI) di industri manufaktur Indonesia perlu diimbangi dengan penguatan keamanan siber. Ketua WANTRII, Fadli Hamsani, menekankan bahwa transformasi industri tidak lagi sekadar mengadopsi teknologi, tetapi harus memastikan dampak nyata terhadap produktivitas dan daya saing, serta mitigasi risiko yang menyertainya. Penguatan transformasi perlu dilakukan melalui tiga aspek: sumber daya manusia, proses bisnis, dan teknologi. Fadli menyoroti bahwa penerapan AI di Indonesia masih tahap awal, terutama di tingkat enterprise. Data McKinsey menunjukkan sekitar 85 persen adopsi AI global masih untuk mendukung pekerjaan manusia, sedangkan pemanfaatan di tingkat perusahaan sekitar 30 persen. WANTRII bersama pemangku kepentingan mendorong penyusunan pedoman etika AI dan panduan keamanan siber untuk membantu perusahaan menerapkan teknologi secara aman. Deputi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam, menjelaskan tiga peran AI: meningkatkan produktivitas, alat kejahatan siber, dan sasaran serangan. Ia menekankan pentingnya peningkatan kesadaran pengguna karena serangan berbasis AI dapat menyamar sebagai komunikasi meyakinkan. Wakil Kepala BSSN, Albertus Rachmad Wibowo, juga menegaskan keamanan siber sebagai fondasi transformasi digital. Pemerintah mendorong penguatan ekosistem perusahaan teknologi lokal melalui akselerasi usaha dan perlindungan kekayaan intelektual. Isu penggunaan konten jurnalistik oleh mesin pencari berbasis AI juga disorot karena berpotensi mengurangi kunjungan ke situs berita. Dalam Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, WANTRII dan PT RJGF International Indonesia dijadwalkan menandatangani MoU untuk memperkuat kolaborasi transformasi digital industri.

Berita Terkait Lainnya