Konsumsi Air Data Center AI Jadi Perdebatan Hangat, Seberapa Besar Dampaknya?

Kamis, 1 Oktober 2026 pukul 05.41
Konsumsi Air Data Center AI Jadi Perdebatan Hangat, Seberapa Besar Dampaknya?

Sumber Berita Asli

Aktualita.co

Baca di Website Asli ↗
Ledakan penggunaan AI tidak hanya meningkatkan kebutuhan chip dan listrik, tetapi juga menimbulkan perhatian besar terhadap konsumsi air di pusat data. Air digunakan untuk mendinginkan server yang beroperasi 24 jam, dan semakin padat komputasi AI, semakin besar panas yang harus dikelola. Penelitian di Nature Sustainability memperkirakan penyebaran server AI di AS dapat menghasilkan water footprint sekitar 731 juta hingga 1,125 miliar meter kubik per tahun menuju 2030, dengan sekitar 71 persen berasal dari penggunaan tidak langsung terkait pembangkitan listrik. Perdebatan semakin sensitif karena dampaknya bersifat lokal. Pusat data yang terkonsentrasi di wilayah dengan tekanan air tinggi dapat memicu kekhawatiran masyarakat, sementara transparansi pengukuran penggunaan air oleh operator masih tidak merata. Reuters mencatat meningkatnya penolakan proyek pusat data di sejumlah wilayah AS karena dampak terhadap listrik dan sumber daya air. Google dan Microsoft mulai mengubah sistem pendinginan. Google melaporkan mengembalikan sekitar 7,7 miliar galon air selama 2025, sedangkan Microsoft mengembangkan desain pusat data yang mengklaim "zero water for cooling" dengan pendinginan direct-to-chip dan sirkulasi tertutup, berpotensi menghindari sekitar 125 juta liter air per tahun per fasilitas. Solusi tidak sekadar menghentikan pembangunan, tetapi mencakup teknologi pendinginan tanpa evaporasi, penggunaan air non-potabel, pemilihan lokasi berbasis ketersediaan air, dan transparansi data. Perdebatan ini menunjukkan kecanggihan AI tetap bergantung pada infrastruktur fisik dan perlu memastikan ekspansinya tidak menciptakan tekanan baru terhadap sumber daya masyarakat.

Berita Terkait Lainnya