DoorDash meluncurkan agen AI pemesanan makanan yang dapat diakses melalui Apple Messages, memungkinkan pengguna cukup mengirim prompt seperti "order my usual" dan agen memprosesnya menjadi pesanan. Fitur ini membuka daftar tunggu untuk pengguna di Amerika Serikat dan menjadi langkah DoorDash memperkuat posisinya melawan Uber Eats dan Grubhub. Perusahaan juga mulai menguji drone pengiriman bersama sejumlah restoran terpilih di Northern California.
Perkembangan ini menandai pergeseran antarmuka layanan dari menavigasi aplikasi menuju percakapan dengan agen otonom. DoorDash menyebut agen tersebut mampu memahami preferensi, mencari rekomendasi lokal, menyusun isi keranjang, mengirim foto makanan yang disarankan, hingga menangani pesanan kelompok dengan preferensi diet dan jumlah berbeda dalam satu transaksi. Langkah ini bertujuan memangkas friksi pemesanan sekaligus mengunci kebiasaan belanja lewat konteks personal.
Peluncuran ini terjadi di tengah dorongan industri membangun agen AI personal yang mampu menyelesaikan tugas tanpa pengguna membuka aplikasi atau situs web. Model bisnis aplikasi yang bertumpu pada trafik, iklan, dan penemuan merchant lewat antarmuka internal berpotensi kehilangan sebagian titik sentuhnya. Platform yang menang adalah yang paling awal memiliki agen paling cerdas, bukan yang aplikasinya paling ramai dibuka.
Bagi Indonesia, dampaknya belum langsung karena fitur ini terbatas di Amerika Serikat. Namun arahnya relevan untuk pasar on-demand domestik yang dikuasai layanan pesan-antar besar, terutama ketika pemerintah tengah menyiapkan aturan tarif pengantaran makanan. Jika agen AI menjadi kanal utama pemesanan, dinamika penemuan merchant, iklan platform, dan volume order kurir akan berubah — tiga hal yang justru jadi inti pembahasan regulasi ojol.