Informasi viral di TikTok mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau telah dibantah oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Badan Geologi memastikan narasi tersebut adalah hoaks dan merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi. Video yang disebarkan akun 'XinShi' tidak sesuai dengan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api tersebut.
Badan Geologi menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi pada Senin, 5 Oktober 2026, pukul 20.28 WIB, dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 1 detik. Namun, tinggi kolom erupsi tidak teramati, dan tidak ada pernyataan resmi bahwa gunung akan hancur atau menghilang akibat erupsi.
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level II atau Waspada. Status ini tidak dapat disamakan dengan klaim tsunami setinggi 60 meter yang akan terjadi dalam waktu dekat. Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya terhadap narasi kebencanaan yang tidak didukung data ilmiah.
Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Badan Geologi menekankan pentingnya membedakan catatan aktivitas vulkanik yang terukur dengan klaim bencana yang tidak didukung informasi resmi.