Presiden AS Donald Trump mengumumkan Washington telah mengamankan kendali mayoritas atas 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela melalui kemitraan dengan perusahaan swasta. Langkah ini bertujuan menghidupkan kembali industri minyak Venezuela yang terpuruk akibat kurangnya investasi dan sanksi.
Kesepakatan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak Venezuela yang saat ini hanya 1,25 juta barel per hari. Keberhasilan proyek ini akan menambah pasokan minyak mentah global sekaligus mengamankan kebutuhan kilang domestik AS dan menekan harga bahan bakar di dalam negeri.
Bagi Indonesia, perubahan peta pasokan energi dunia ini berpotensi menekan harga minyak global yang saat ini berada di kisaran US$88 per barel. Turunnya harga komoditas ini akan sangat menguntungkan Indonesia sebagai importir minyak netto.
Harga minyak yang lebih rendah dapat meringankan beban subsidi energi, mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah, serta mengendalikan defisit APBN yang telah mencapai Rp240 triliun. Namun, jika kesepakatan memicu gejolak politik atau sanksi baru, risiko kenaikan harga minyak tetap terbuka.