Krisis kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan terus memakan korban jiwa. Dua warga—Hardiansyah, pengemudi ojek online di Palembang, dan Lisna, guru SD di Banjarmasin—meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan asma yang kambuh di tengah kualitas udara yang berada pada fase membahayakan. Keduanya memiliki riwayat asma dan kondisi mereka memburuk seiring pekatnya asap karhutla.
Hardiansyah meninggal pada Jumat pagi setelah sesak napas hebat saat bangun tidur. Istrinya, Rika, menceritakan bahwa suaminya tetap bekerja meski kabut asap pekat. Sementara Lisna meninggal pada Sabtu malam setelah sesak napas tak tertahankan; pesan terakhirnya memohon agar anaknya dijaga. Kedua kasus ini menyoroti dampak serius polusi udara terhadap kelompok rentan.
Indeks kualitas udara di sejumlah wilayah mencapai level "berbahaya", dengan Palembang mencatat ISPU 832. Belum ada pencatatan resmi korban meninggal akibat asap, namun riset menunjukkan paparan partikel halus dari karhutla berkaitan dengan sekitar 33.100 kematian dini orang dewasa dan 2.900 kematian bayi per tahun.
Sorotan internasional datang dari Leonardo DiCaprio yang menyebut lebih dari lima juta orang terdampak. Organisasi lingkungan menuding lemahnya tata kelola gambut dan konsesi perusahaan sebagai penyebab berulangnya karhutla. Pemerintah mengklaim telah menindak puluhan perusahaan, namun kritik tetap mengalir.