Ribuan petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Kalimantan Selatan, khususnya Banjarbaru. Bekerja dengan semangat pantang pulang sebelum padam, mereka menghadapi kabut asap dan terik matahari untuk mencegah dampak lebih luas pada kesehatan, ekonomi, hingga ketahanan pangan masyarakat.
Penanganan dilakukan lewat operasi darat dan udara, melibatkan ratusan pompa, tujuh armada udara untuk water bombing, serta sistem pengairan 24 jam. Tantangan utama berada di bara api tersembunyi di bawah tanah lahan gambut, sehingga diterapkan metode suntik air bawah tanah guna memastikan lahan benar-benar basah dan mencegah kebakaran berulang.
Pemerintah juga fokus pada penegakan hukum dan pencegahan. Sebanyak 42 perusahaan sedang diselidiki terkait dugaan pembakaran lahan sepanjang 2026, dengan potensi kerugian negara dan biaya pemulihan lingkungan mencapai hampir Rp15 triliun. Patroli darat diperbanyak dan didukung teknologi drone untuk mencegah titik api baru.
Hingga 25 Agustus 2026, tercatat 1.903 kejadian karhutla dengan luas terdampak mencapai 9.088 hektare di Kalsel. Mengantisipasi fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027, pemerintah terus memperkuat kewaspadaan agar kebakaran masif seperti pada 2023 tidak terulang kembali.