Skrining psikososial pada pekerja perlu gunakan instrumen tervalidasi

Minggu, 4 Oktober 2026 pukul 07.33
Skrining psikososial pada pekerja perlu gunakan instrumen tervalidasi

Sumber Berita Asli

Berita Terkini - ANTARA News

Baca di Website Asli ↗
Guru Besar dan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi FKUI, Prof. Dr. dr. Dewi S. Soemarko, M.S., Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K), menekankan bahwa skrining psikososial bagi pekerja harus menggunakan instrumen yang tervalidasi reliabilitasnya dan disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan serta karakteristik pekerja. Pendekatan ini berbeda dengan masyarakat umum karena stressor yang dihadapi pekerja tidak sama, sehingga penggunaan kuesioner perlu mempertimbangkan konteks pemeriksaan. Praktisi Kesehatan Kerja dari SKK Migas, dr. Royanul Arief, MM (K3L), menilai skrining psikososial di industri minyak dan gas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga aspek keselamatan kerja. Kelelahan mental yang tidak ditangani dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Namun, hasil skrining tidak sama dengan diagnosis dan perlu penilaian lebih lanjut. Pengelolaan risiko psikososial semakin relevan pada pekerjaan dengan tuntutan tinggi, sistem shift, lokasi terpencil, dan paparan risiko operasional. Faktor psikososial mencakup beban kerja, tuntutan pekerjaan, hubungan interpersonal, dukungan organisasi, serta keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi. Commercial & Partnership Director PT Prodia Widyahusada, Indriyanti Rafi Sukmawati, menambahkan bahwa kesehatan mental pekerja penting untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan perusahaan. Topik ini dibahas dalam seminar yang diselenggarakan oleh Prodia OHI, Prodia Widyahusada, FKUI, dan SKK Migas.

Berita Terkait Lainnya