Sejarah dan budaya di balik suatu hidangan dinilai menjadi elemen penting dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia, bukan sekadar cita rasa dan bahan pangan. Hal ini disampaikan dalam keterangan resmi Kementerian Pariwisata di Jakarta, Minggu, yang mengutip Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua BPPD DIY, GKR Bendara.
GKR Bendara menekankan bahwa produk wisata gastronomi di Yogyakarta harus memiliki latar belakang cerita, seperti alasan kuliner Jogja cenderung manis yang berkaitan dengan sejarah 19 pabrik gula pada masa Sultan Hamengkubuwono VII. Contoh kuliner langka seperti nasi golong gilig dan dawet sambal juga disebut sebagai bagian dari rekam sejarah yang terdokumentasi baik.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menambahkan bahwa gastronomi perlu dikemas melalui narasi kuat berbasis nilai budaya, seperti rendang yang menyimpan makna filosofis. Chef Fernando Sindu menyoroti tingginya standar konsumen lokal terhadap makanan daerah karena ikatan emosional, sehingga autentisitas resep dari sumber asli tetap penting.
Ilustrator sekaligus pengisah makanan Nugraha Pratama menyebut tantangan terbesar dalam menggambarkan makanan adalah menangkap budaya di baliknya yang memiliki sejarah panjang. Pandangan-pandangan ini mengemuka dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 di DI Yogyakarta pada Jumat (2/10) dengan 22 pembicara dari berbagai unsur.