Rehabilitasi prostetik bukan hanya sekedar pemasangan tangan atau kaki palsu, melainkan proses pemulihan fungsi yang komprehensif dengan evaluasi klinis, latihan penggunaan, dan pendampingan sesuai kebutuhan pasien. Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari ketersediaan prostesis, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan aktivitas pasien agar nyaman digunakan serta membantu mengembalikan kemandirian dan kualitas hidup.
Dalam kuliah tamu bertajuk "Clinical Prospective in Upper and Lower Limb Prosthesis Rehabilitation" di FKUI, dokter Rizky Kusuma Wardhani menekankan bahwa teknologi canggih tidak menjamin keberhasilan rehabilitasi tanpa asesmen tepat, pemilihan prostesis cermat, program rehabilitasi personal, dan kolaborasi tenaga kesehatan. Rehabilitasi harus berorientasi pada hasil fungsional yang bermakna bagi pasien.
Zulfaqar Omar dari Össur menyoroti anggapan keliru bahwa rehabilitasi selesai setelah pasien mendapat prostesis. Pasien memerlukan evaluasi klinis, prostesis nyaman, latihan penggunaan, serta pemeriksaan dan penyesuaian berkala. Kebutuhan pengguna prostesis di Indonesia beragam, mulai dari mengendarai sepeda motor hingga berjalan di permukaan tidak rata, sehingga kondisi lingkungan dan gaya hidup perlu dipertimbangkan.
Tantangan rehabilitasi prostetik meliputi akses layanan berkualitas, tenaga profesional terlatih, dan biaya yang memengaruhi kemampuan pasien memperoleh pendampingan berkelanjutan. Kegiatan akademik ini diharapkan memperluas pemahaman klinis dokter dalam mempertimbangkan pilihan alat dan pendekatan rehabilitasi yang sesuai, dengan tujuan akhir membantu pasien kembali beraktivitas mandiri dan memperoleh kualitas hidup lebih baik.