Neurolog di The Ohio State University Wexner Medical Center, Nick Andresen, mengungkapkan bahwa gangguan pendengaran tidak hanya disebabkan oleh usia dan paparan suara keras, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan. Merokok, misalnya, dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran karena berkurangnya pasokan oksigen ke telinga bagian dalam dan kerusakan akibat bahan kimia beracun dalam asap rokok.
Penggunaan obat tertentu seperti NSAID (termasuk aspirin dan ibuprofen) secara rutin dalam dosis tinggi juga dapat berkontribusi terhadap gangguan pendengaran, meskipun efeknya biasanya sementara. Tekanan darah tinggi juga berisiko merusak pembuluh darah kecil dan sel rambut di telinga bagian dalam, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran bertahap atau tiba-tiba.
Andresen menekankan pentingnya tidak meremehkan dampak kumulatif dari suara sehari-hari, seperti penggunaan headphone, perkakas listrik, dan mesin pemotong rumput. Ia menyarankan untuk membatasi paparan suara keras dan menggunakan pelindung pendengaran di lingkungan bising.
Secara keseluruhan, kondisi kesehatan seperti diabetes, kesehatan kardiovaskular, infeksi, dan cedera kepala juga dapat memengaruhi kemampuan pendengaran. Berhenti merokak dapat mengurangi risiko tersebut.