Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) melemah dan kembali menembus Rp18.013/US$ pada Senin (28/9/2026), sementara di pasar spot ditutup melemah 0,46% ke Rp17.975/US$. Pelemahan dipicu oleh kenaikan harga minyak Brent ke US$107,3/barel akibat memudarnya harapan resolusi konflik AS-Iran, serta penguatan indeks dolar AS ke 101,11 dan yield US Treasury 10 tahun ke 5,2%. Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak menghidupkan kembali alarm inflasi, dengan Bloomberg Economics memperkirakan inflasi September mencapai 3,3%, naik dari 3,19% bulan sebelumnya, meski pemerintah menahan transmisi melalui subsidi BBM. Yield INDON juga tercatat tertinggi sejak 2023, mencerminkan tekanan eksternal dan ekspektasi data ekonomi domestik.