Rupiah mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (28/9/2026), melemah 0,46% ke Rp17.975/US$ di pasar spot dan 0,24% ke Rp17.997/US$ di pasar NDF. Pelemahan ini dipicu oleh anjloknya IHSG serta tekanan jual di pasar obligasi domestik, seiring otoritas bursa membuka batas bawah harga saham hingga Rp1 per lembar.
Tekanan tambahan datang dari pasar surat utang global, terutama akibat kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4 basis poin menjadi 5,2% dan tenor 2 tahun naik 5 basis poin menjadi 4,9%. Hal ini turut menekan pasar obligasi domestik, di mana yield surat utang pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin menjadi 7,12% dari sebelumnya 7,09%.
Kondisi ini mencerminkan tekanan berlapis yang melanda pasar keuangan domestik, baik dari sisi ekuitas maupun obligasi, yang berimbas langsung pada pergerakan nilai tukar rupiah. Para analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah lebih lanjut hingga level Rp18.200/US$.