Pergerakan penguatan rupiah sepanjang Agustus tergerus pada hari terakhir perdagangan bulan tersebut, melemah 0,28% ke level Rp17.740/US$. Hal ini dipicu oleh sinyal hawkish Gubernur Federal Reserve (The Fed) AS, Kevin Warsh, yang menegaskan komitmen pada target inflasi 2% dan fokus pada pengendalian harga.
Data inflasi rujukan The Fed, Personal Consumption Expenditure (PCE), masih relatif tinggi yaitu 3,7% secara tahunan dan 4,1% secara enam bulanan. Kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan memperkuat nilai dolar.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai perkembangan pasca-Jackson Hole Meeting telah mengubah peta risiko pasar keuangan Indonesia. Sikap hawkish The Fed memberikan risiko jangka pendek terhadap rupiah melalui penguatan dolar dan kenaikan yield Treasury tenor pendek.
Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi membuat biaya memegang posisi short-dollar semakin mahal. Akibatnya, rupiah berpotensi menghadapi tekanan pelemahan lebih lanjut dengan risiko menyentuh level Rp18.000/US$.