Enam bulan setelah konflik di Timur Tengah mengganggu produksi bahan bakar fosil dan mengubah Selat Hormuz menjadi medan pertempuran, lanskap ekonomi energi global telah berubah secara signifikan.
Lonjakan harga bahan bakar fosil akibat perang mendorong pemerintah, perusahaan, dan konsumen untuk mulai beralih ke sumber energi terbarukan.
Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat bahwa negara-negara pengimpor bahan bakar fosil menanggung biaya tambahan lebih dari US$330 miliar sejak konflik dimulai.
Di sisi lain, kenaikan harga energi tersebut justru memberikan keuntungan besar bagi negara-negara penghasil minyak dan gas yang berada di luar wilayah konflik.