Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sedang menghadapi "kondisi terburuk" dalam perang ekonomi akibat tekanan yang semakin besar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa berbagai proyek pembangunan di Iran tetap berjalan dan patut diapresiasi.
Pezeshkian menilai pencapaian pembangunan tersebut sangat berarti mengingat konflik dan tekanan yang dialami negaranya. Ia bahkan menyebut bahwa Iran mungkin tidak akan mampu mencapai sebanyak itu dalam kondisi normal.
Untuk mengatasi berbagai persoalan, Presiden Iran meyakini hasil yang lebih baik dapat diraih melalui solidaritas rakyat, peningkatan akuntabilitas pejabat, serta partisipasi aktif dari sektor swasta dan investor.
Tekanan ekonomi ini berawal dari penarikan diri Amerika Serikat pada 2018 dari kesepakatan nuklir 2015. Washington kemudian memberlakukan kembali sanksi "tekanan maksimum" yang menargetkan ekspor minyak, sektor keuangan, dan jaringan perdagangan internasional Iran.