Anak muda India kian mempertanyakan manfaat gelar sarjana karena jumlah lulusan terus bertambah sementara pekerjaan berkualitas sangat terbatas. Data pemerintah 2025 menunjukkan pengangguran anak muda usia 15-29 tahun mencapai 9,9 persen atau lebih dari tiga kali lipat angka nasional, dan bahkan lebih tinggi di kalangan lulusan perguruan tinggi, yakni 11,2 persen. Kegelisahan ini memuncak lewat aksi protes ribuan mahasiswa terkait kebocaran soal ujian kedokteran NEET, yang berujung pada pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan pada 25 Juli dan usulan rancangan undang-undang berupa hukuman lebih berat serta satuan tugas khusus. Namun para pakar menilai kebocoran soal hanyalah gejala dari masalah sistemik yang lebih besar: pengangguran muda, kenaikan biaya hidup, dan menurunnya kepercayaan terhadap pendidikan tinggi. Perubahan dunia kerja akibat AI turut memperparah keresahan. Perusahaan kini lebih menghargai keterampilan praktis, kemampuan adaptasi, dan melek AI ketimbang prestasi akademik semata. Rekrutmen lulusan baru di industri IT India anjlok hampir 80 persen dari puncak pasca-pandemi, dari lebih 600.000 orang pada 2022 menjadi kurang 150.000 per tahun, sementara sekitar 11 juta mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi pada tahun akademik 2023-2024. Mahasiswa seperti Shivam Kushwaha akhirnya mengambil inisiatif belajar prompt engineering dan AI generatif di luar kelas karena merasa kurikulum kampus terlalu lambat beradaptasi. Para pakar memperingatkan bahwa India harus segera menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas dan membenahi sistem pendidikan agar keunggulan demografisnya—populasi usia kerja 936 juta jiwa yang diproyeksikan tembus 1 miliar pada 2036—tidak berubah menjadi krisis sosial.