Posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir September 2026 tercatat US$146,3 miliar, turun tipis US$0,2 miliar dari Agustus 2026. Namun, dibandingkan akhir 2025 yang mencapai US$156,47 miliar, cadev telah menyusut sekitar US$10,2 miliar atau 6,5%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya tekanan eksternal, terutama pelemahan rupiah, pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan kebutuhan stabilisasi nilai tukar. Sepanjang September, investasi portofolio asing mencatat arus keluar bersih sekitar US$0,83 miliar, terutama dari pasar saham (US$0,57 miliar) dan SRBI (US$0,24 miliar).
Kondisi tersebut mengurangi pasokan valuta asing di pasar domestik dan meningkatkan kebutuhan stabilisasi rupiah. Meski demikian, Josua menekankan bahwa penurunan cadev tidak dapat disamakan langsung dengan besarnya intervensi Bank Indonesia, karena terdapat penerimaan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa yang turut menopang cadev.