Perangkat lunak bawaan pabrikan (bloatware) pada laptop kini semakin berkembang menjadi platform yang berat, padahal awalnya hanya alat bantu untuk mengatur performa perangkat keras atau batas pengisian daya yang tidak disediakan Windows 11.
Produsen seperti Asus, Lenovo, dan HP sering kali menggabungkan pengaturan perangkat keras penting, seperti profil kipas dan baterai, dengan layanan tambahan seperti toko game dan sistem akun, sehingga aplikasi terasa membebani pengguna.
Pengguna sulit mencopot perangkat lunak ini karena fitur kontrol inti tersebut sangat dibutuhkan, meskipun kini ada alternatif ringan berbasis komunitas seperti G-Helper untuk laptop Asus.
Penulis menyarankan agar Microsoft memstandardisasi lebih banyak kontrol perangkat keras umum langsung di dalam Windows 11, sehingga produsen laptop tidak perlu lagi menyertakan ekosistem aplikasi paralel yang berat dan penuh fitur tidak perlu.