Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong pertumbuhan pusat data (data center) yang membutuhkan air dan listrik dalam jumlah besar, terutama untuk sistem pendingin berbasis penguapan. Di Indonesia, proyek data center AI senilai Rp3,5 triliun milik BDx Data Centers di Jatiluhur, Purwakarta, dihentikan sementara akibat masalah perizinan dan kekhawatiran dampak lingkungan. Ahli dari ITB dan BRIN menekankan perlunya kajian dampak ekologis, neraca air, dan simulasi operasi waduk karena Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, termasuk penyediaan air baku dan irigasi.
Secara global, studi EESI menyebut satu data center dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari, setara kebutuhan 10.000-50.000 orang, meskipun angka ini bervariasi tergantung teknologi pendingin dan lokasi. Pemerintah Indonesia melihat pengembangan data center sebagai peluang ekonomi digital dan menetapkan tiga syarat utama: ketersediaan lahan, listrik, dan air. Kawasan ekonomi khusus digital di Bintan telah penuh, dan pemerintah menyiapkan ekspansi di Karawang serta menambah kapasitas listrik hingga 500 megawatt dalam 2-3 tahun.
Namun, kesiapan listrik dan lahan saja tidak cukup. WALHI dan para ahli mendesak regulasi ketat serta pengawasan lingkungan, termasuk penggunaan teknologi pendingin efisien seperti closed-loop, pendinginan imersi, dan air daur ulang. Pembangunan data center harus dilakukan bertahap berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, memastikan kebutuhan air tidak mengurangi alokasi masyarakat dan sektor lain, terutama saat musim kemarau.