Zoom memprediksi bahwa percakapan akan menjadi antarmuka utama untuk berinteraksi dengan AI, mirip dengan revolusi layar sentuh yang diperkenalkan Apple sekitar 10-15 tahun lalu. Prediksi ini disampaikan oleh Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific at Zoom, yang menyebut teknologi conversational intelligence sebagai fokus utama perusahaan.
Teknologi ini memungkinkan AI memahami konteks percakapan secara real-time, termasuk siapa yang berbicara, bahasa yang digunakan, dan pekerjaan yang perlu dilakukan setelahnya. AI Zoom tidak hanya membuat transkrip dan rangkuman, tetapi juga mengubah percakapan menjadi tindakan nyata, konsep yang disebut sebagai system of action.
Kemampuan conversational intelligence AI Zoom mencakup pemahaman multibahasa dalam satu rapat, misalnya Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris secara bersamaan. Zoom sedang mengembangkan dukungan transkripsi untuk sekitar 45 bahasa, dengan Bahasa Indonesia sudah termasuk.
Dengan konsep ini, Zoom ingin percakapan tidak berhenti sebagai rekaman atau rangkuman saja, melainkan dapat menghasilkan dan menyelesaikan pekerjaan berdasarkan pembicaraan tersebut.