Pauli menulis surat 4 Desember 1930 dari konferensi di Tubingen, Jerman, mengaku datang ke pesta dansa Zurich rather than ke Tubingen, dengan sapaan ikonik "Dear Radioactive Ladies and Gentlemen…". Surat tersebut menyodorkan hipotesis "partikel hantu" untuk menyelamatkan hukum kekekalan energi saat peluruhan beta, tanpa bukti eksperimen langsung saat itu.
Dari hipotesis teoretis hingga pembuktian empiris, Clyde Cowan dan Frederick Reines berhasil menangkap neutrino pertama menggunakan reaktor nuklir Savannah River pada 1956, memperoleh Hadiah Nobel Fisika 1995. Eksperimen Brookhaven 1962 lalu mengungkap bahwa neutrino memiliki "rasa"—elektron, muon, dan tau—sebagai hasil tahunan Nobel Fisika 1988 untuk Lederman, Schwartz, dan Steinberger.
Tahap lanjutnya meliputi Nobel 2002 bagi Davis dan Koshiba atas deteksi neutrino dari Matahari dan supernova, serta Nobel 2015 bagi Kajita dan McDonald bukti osilasi neutrino yang membuktikan neutrino memiliki massa. Keempatnya membangun fondasi bagi observatorium IceCube di Antartika.
Francis Halzen menerima Nobel Fisika 2026 atas kontribusi menentukan bagi IceCube Neutrino Observatory dan penemuan neutrino berenergi tinggi asal astrofisika. Detektor raksama tertanam di es Kutub Selatan telah membuka jendela baru untuk mengamati sumber kosmik seperti blazar dan supernova, menyempurnakan lintas lima Nobel Fisika sepanjang sejarah dari 1988 hingga 2026.